Jumat, 10 Juli 2015

Tenis Sulut Sampai Dimanakah ?


RemajaTenis, 11 Juli 2015 Tenis oh Tenis Bumi Nyiur Melambai. Sampai dimanakah ? Keprihatinan selama ini akibat banyaknya keluhan datang dari masyarakat tenis baik di Sulut maupun Kawanua diluar Sulut. Apakah Sulut tidak mempunyai potensi dipertenisan nasional ? Ini pertanyaan cukup serius sebenarnya jika kita peduli terhadap pertenisan di Sulut. Terlihat jelas kalau tidak disadari ada kecendrungan menurunnya atlet tenis dari Sulawesi Utara yang berkiprah dikancah nasional.
Sejarah Tenis Indonesia menunjukkan betapa besarnya peranan Petenis KAWAUA sebagai tulang punggung Tenis Indonesia diajang Internasional.
Bahkan saat SEA Games 2015 di Singapore ada 2 nama Kawanua dalam tim inti yaitu Christopher Rungkat dan Yessy Rompies yang kduanya lahir dan besar di Jakarta.

Tetapi dalam beberapa tahun ini keberadaan petenis asal Manado justru sudah tidak kelihatan lagi. Ternyata petenis yunior yang aktip dalam turnamen bisa dihitung dengan jari. Bahkan lebih menonjol petenis berasal dari kota Tondano yang sudah berani mengadu kekuatan sampai pulau Jawa ikuti turnamen nasional.
Janganlah kita terbuai dengan keberhasilan petenis Kawanua dalam membuat sejarah Tenis Indonesia dimana setiap generasi selalu muncul nama nama Kawanua yang membawa nama dan bendera Indonesia. Siapa tidak kenal dengan Lany Kaligis, Lita Soegiaro, Jacky Wullur (alm), Samudra Sangitan, Yolanda Soemarno-Mangadil , Donald Wailan Walalngi, Andrian Raturandang dan Christopher Rungkat yang sering membawa nama Indonesia diajang international event diluar negeri.
Yang jadi masalah saat ini adalah sudah sampai dimana kepedulian pemegang keputusan di Sulawesi Utara. Baik dari organisasi tenis sendiri maupun Pemerintah setempat. Dari sisi induk organisasi tenis sendiri, program pembinaannya menjadi tanda tanya besar.
Mengoptimalkan potensi tenis di Sulawesi Utara bukanlah suatu khayalan belaka bagi pelaku tenis di Bumi Nyiur Melambai yang tercinta. Yang jadi pertanyaan saat ini bagi masyarakat tenis di Sulawesi Utara adalah masih adakah program pembinaannya?
Saya coba membelah permasalahan yang ada selama ini ini, karena sarana dan prasarana sudah dimiliki dan kurang dioptimalkan saja. Kota Manado, memiliki 8-9 lapangan tenis Sario, terbesar di Sulawesi Beberapa tahun silam pernah diadakan turnamen internasional. Munculnya anggota tim nasional Davis Cup Indonesia pernah berlaga dilapangan tenis Sario. Yang terlihat sekarang hanya merupakan mimpi belaka. Seringkali saya menerima pertanyaan dari rekan rekan tenis mengenai apa masalah dari tennis development di Sulut dan saya jawab dengan sedikit guyon, masalah yang ada adalah kurang ada NIAT saja karena kesibukan masing masing.
Saya mencoba menganalisa melalui SWOT Analysis (Strength, Weakness,Opportunities, Threat) untuk bisa dipahami permasalahan tersebut.
Kekuatan yang ada sebenarnya keberadaan Undang Undang No. 3 tahun 2005 tentang SKN (Sistem Keolahragan Nasional) . Wajib hukumnya Pemerintah baik Pemerintah Provinsi/Kotamadya/Kabupaten maupun Pusat medudukung pertenisan di Sulut. Modal utama bagi olahragawan Sulawesi Utara yang disebut Kawanua didalam olahraga perorangan memiliki fighting spirit cukup tinggi. Keberadaan petenis Kawanua dipertenisan nasional setiap generasi selalu terwakili.
Kekurangan yang dimiliki seperti daerah daerah lainnya adalah minimnya tenaga pelatih berkualitas. Salah satu indikator kurang pesatnya prestasi petenis di Bumi Nyiur Melambai. Hal ini karena minimnya kepelatihan dibuat selama ini sehingga tidak diberi peluang untuk peningkatan kepelatihannya. Begitu pua keberadaan lapangan tenis Sario belum mendukung karena tidak dilengkapi sarana latihan yang modern dengan pemanfaatan IPTEK . Disamping itu pula yang terasa sekali adalah minimnya kompetisi atau turnamen tenis di Bumi Nyiur Melambai 
Kelemahan selanjutnya adalah kepedulian Pemerintah Provinsi maupun Kotamadya dan Kabupaten sangat rendah terhadap tenis di Sulawesi Utara. Lemahnya hubungan antar lembaga juga sangat terasa. Hal yang lebih penting adalah hubungan antar Pelti dari tingkat provinsi sampai ke kabupaten atau kotamadya. Begitu pula hubungan dengan Jakarta. Yang juga merupakan masalah klasik selama ini adalah dana yang kurang dipenuhi akibat dari ketiadaan program yang jelas membuat sponsorpun kurang tertarik didunia olahraga.
Pelatih nasional berasal dari kalangan Kawanua diluar Sulawesi Utara kurang dimanfaatkan dengan baik . Mereka ini masih memiliki sense of belonging selaku Putra Kawanua.

Sudah waktunya sekarang untuk berani memulai berbuat demi kemajuan tenis karena pembinaan olahraga tenis tidaklah bisa sejenak (instant) , butuh waktu yang lama. Tersedianya anggaran tentunya cukup untuk melaksanakan program pembinaan tersebut.
Seperti kita ketahui pergantian pengurus selalu terjadi hal hal yang membuat tidak konsistensinya dari tingkat pengambian keputusan utk tetap melaksanakan program ini sesuai rencana. Begitu pula Atlet yang baik justru berpindah tempat untuk berguru ke Jawa mengejar prestasinya. Ini hanya bisa dilakukan oleh atlet yang mampu dalam finansialnya. Jika berhasil akan berdampak lebih buruk lagi karena kemungkinan berpindah provinsi didalam ajang multi event yang lebih cendrung ke pengejaran PRESTISE dibandingkan PRESTASI, seperti PON (Pekan Olahraga Nasional) maupun PORPROV
Apa yang bisa dilakukan oleh pengambil keputusan di Sulawesi Utara ???.
Marilah kita berpikir dari bawah dari akar rumputnya, yaitu grass root programme yang sangat vital. Pengenalan Tenis kepada masyarakat khususnya melalui sekolah sekolah dasar dan menengah dengan tujuan menhgasilkan petenis pemula diusia dini dan juga calon calon pelatih tenis diringkat guru guru sekolah dasar. International Tennis Federation (ITF) telah memiliki program dan siap dengan bantuan yang bisa diberikan setiap tahunnya kepada setiap negara yang menjalankan program tersebut, melalui ITF Development Fund. Bantuan berupa raket, bola . Pelatih program ini juga tersedia oleh ITF dan sebenarnya jika menginginkan dan di Indonesia juga tersedia tenaga pelatih program ini. Oleh ITF dikenal dengan program Play & Stay ini Tennis, merupakan cara termudah bermain tenis . Disni keuntungannya adalah melahirkan petenis pemula sebagai cikal bakal menjadi petenis potensial.
Diikuti pula kepelatihan pelatih yang seharusnya bisa rutin dilaksanakan di Manado, Tondano dengan tutor yang diberikan oleh PP Pelti. Dalam catatan saya selama 20 tahun ini pelaksanaan National ITF Level-1 Coaches course di Bumi Nyiur Melambai hanya 1 kali . Ini sangat minim jika ingin memajukan pembinaan tenis di Sulut. Sebenarnya melaksanakan penataran pelatih ini tidak memakan beaya besar karena setiap peserta diwajibkan membayar entry fee seperti lazimnya ikut turnamen nasional.
Coaching clinic dilakukan secara berkala kepada atlet2 yang sudah berprestasi mendampingi pelatih yang ada. Dengan mendatangkan pelatih nasional ke Manado ataupun kota kota di Sulawesi Utara sehingga pelatih lokal dan petenisnya termotivasi.
Yang tidak kalah penting adalah keberadaan turnamen khususnya yunior disetiap kabupaten maupun kotamadya yang memiiki lapangan tenis memadai termasuk Manado. Saya sendiri selaku pelaku tenis diluar induk organisasi tenis Pelti sudah bisa selenggarakan turnamen nasional RemajaTenis di Manado tahun 2012. Saya terkejut sekali karena jumlah petenis yunior di Sulawesi Utara sangat minim. Bahkan kota Manado kalah dengan Tondano.
Dengan memiliki atlet2 yang tersedia seyogyanya setiap Kabupaten maupun kotamadya memiliki Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) yang dipersiapkan untuk menghadapi kompetisi antar KabupatenKotamadya seperti POPDA,PORPROV.
Semua program yang tertata rapi akan jadi mubazir andaikan tidak ada komunikasi antar Pelti di Sulawesi Utara. Diawali oleh Pengda Pelti Sulut memperbaiki komunkasi dengan Pengcab Pelti diseluruh Kotamadya dan Kabupaten di Sulawesi Utara. Mulailah dengan melihat masa bakti dari setiap Pengcab kemudian jika sudah kadaluwarsa segera diingatkan untuk segera lakukan Muscab untuk memiih kepemimpinan Pengcab yang baru. 
Seperti yang telah saya ungkapkan diatas kalau semua ini baru bisa terlaksana dengan baik jika rekan rekan yang duduk didalam kepengurusan Pelti baik ditingkat Pengcab maupun Pengda memiliki NIAT untuk memajukan tenis di Sulawesi Utara, maka semua rencana Pokok Pokok Program Kerja Pelti SULUT bisa terlaksana dengan baik. Semoga bisa terlaksana, JANGAN SAMPAI TORANG MO BILANG WAYAMIO. Bravo Tenis !(penuis August Ferry Raturandang/Foto petenis asal Tondano)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar